Kamis, 12 Januari 2012

Ikan Nila

      Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakanhewan vertebrata yang seluruh waktu hidupnya dihabiskan dalam air, yang dapat hidup pada segala jenis perairan. Ikan ini berasal dari Afrika dan diperkenalkan di Indonesia sekitar 30 tahun oleh Balai Besra Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT). Namun dalam sumber lain, ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar yang berasal dari Sungai Nil dan danau disekitarnya. Jenis ikan nila merah merupakan jenis nila yang pertama kali masuk ke Indonesia. Komoditi ini sangat menjadikan bila dilakukan pembudidayaan yang tepat.
       Dibandingkan ikan tawar jenis lain, ikan nila termasuk dalam golongan ikan yang bereproduksi dengan angka cukup tinggi dan daya kelangsungan hidup (Survival Rate) yang cukup tinggi juga. Selain itu ikan ini mempunyai harga dan daya saing juga yang sangat menjanjikan.
          Harga ikan nila pun kini mulai bersaing di pasaran. Untuk ukuran larva yang berusia 10 hari dijual dengan harga Rp. 100.000/liter. Kemudian setalah melalui stadia larva, kini ikan menjadi benih. Untuk harga benih ikan nila dengan ukuran 2-3 cm di jual dipsaran dengan harga Rp. 20/ekor. Sedangkan untuk ukuran 3-5 dijual dengan harga Rp. 35/ekor, serat benih yang berukuran 5-8 cm dijual dengan harga Rp. 50/ekor. Selain itu, indukan pun bisa diperjual belikan dipasaran. Untuk idukan nila paket satu, dijual dengan harga Rp. 3.000.000, untuk paket dua dijual Rp. 4.000.000, dan untuk paket tiga dijual dengan harga Rp. 6.000.000. (Anomim, 2010)
       Pendederan merupakan suatu langkah dimana larva dipisah dari induknya. Pemeliharaan larva ini bertujuan untuk meperlakukan adaptasi pada larva, sehingga nantinya larva dapat dibesarkan dikolam pembesaran. Pemeliharaan pendederan awal berlangsung satu sampai satu setengah bulan. Lalu dipindahkan pada penampungan kolam bak beton, jaring kelambu atau happa.Setelah pendederan, kemudian ikan nila yang sudah menjadi bibit siap dipindahkan kedalam kolam pembesaran.

Selasa, 10 Januari 2012

Togo Congcong Luar


1. Definisi dan Klasifikasi
Togo concong luar merupakan alat tangkap yang berupa perangkap sekaligus penghadang dan mengandalkan arus pasang surut. Terdari jadi dari jaring dan penaju. Alat tangkap ini bersifat pasif sama. Dengan hanya mengandalkan pasang surut, alat ini digunakan. Menurut sisten klasifikasi alat tangkap indonesia, alat ini masuk kedalam klasifikasi perangkap dan penghadang (Subani dan barus, 1989).

2. Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
Togo concong luar terdiri dari bagian :
a.    Jaring yang terbuat dari bahan polyamide. Adapun alat ini terbagi menjadi dua bagian utama yaitu, penajur dan jaring berkantong sebanyak 2 buah.
b.    Penaju merupakan tiang-tiang penghadang yang terbuat biasanya dari bambu atau besi yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk barisan.
c.    Sedangkan untuk jaring sendiri terbagi menjadi beberapa bagian seperti tali ris atas dan tali ris bawah serta kantong yang terbentuk di belakang jaring dengan cara mengikat bagian ujung jaring, dan untuk mempermudah pengangkatan digunakan semacam ring di bagian ujung tali ris. (Ayodyoa, 1981).
Menurut kelompok kami, parameter utama dari alat tangkap ini adalah kerapatn penaju sebagai penghadang dan pengarah ikan untuk masuk kedalam jaring.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Pada pengoprasian alat ini, bisa mengunnakan perahu, namun juga ada yang tidak peru menggunakan perahu karena alat ini cukup hanya dipasang pada pinggir pantai, atau pantai yang tidak terlalu dalam, karena alat ini hanya membutuhkan arus pasang surut (Ayodyoa, 1981).

3.2 Nelayan
Pada penyusunan dan pengoprasian kontruksi alat tangkap ini membutuhkan nelayan sekurang-kurangnya 2 orang. Pembagian tugas nelayan yaitu satu orang sebagai pengoperasi alat pada saat mengangkat hasil tangkapan dan satu orang mengendalikan perahu pada saat pengangkutan hasil tangkapan. Tugas nelayan disini tidak terlalu sulit karena nelayan hanya menunggu ikan masuk ke alat lalu setelah ikan terkumpul nelayan mengankat dan memindahkan hasil tangkapan ke perahu untuk di angkut ke darat (Subani dan barus, 1989).
3.3 Alat bantu
Menurut kelompok kami, pengoperasian alat tangkap ini tidak menggunakan alat bantu karena kami tidak menemukan sumber yang menyatakan hal tersebut.
3.4 Umpan
Menurut kelompok kami alat ini tidak menggunakan umpan untuk memikkat ikan, tetapi dengan hanya mengandalkan arus pasang surut.

4. Metode Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat tangkap togo concong luar ini tidak memerlukan perlakuan khusus karena pengoperasiannya sangat sederhana. Tahap-tahap yang harus dilakukan diantaranya adalah pemasangan alat pada daerah fishing ground yang telah ditentukan. Kemudian pengoperasian alat dengan cara membiarkan alat berada di dasar perairan pasang. Lalu setelah air surut dan ikan terkumpul dilakukan proses hauling atau penarikan jaring untuk mengangkat dan memindahkan hasil tangkapan ke perahu. Setting alat tangkap ini umumnya pada waktu pasang mendekat pantai dan waktu surut menjauhi pantai. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu air surut dalam keadaan kering, setengah kering atau mungkin masih tergenang air. Parameter utama dari alat tangkap togo concong luar ini adalah bukaan mulut jaring berkantung dan luas mulut penajur yang dipasang. (Subani dan barus, 1989)

5. Daerah Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat tangkap togo concong luar ini sangat bergantung sekali pada arus pasang surut air laut yang perbedaan pasang dan surut dengan tinggi (4 - 6 m). Karena membutuhkan arus pasang surut maka togo concong luar dioperasikan pada perairan dangkal sekitar pantai. Topografi dasar perairan yang digunakan umumnya terdiri atas lumpur atau pasir sehingga memberi kemudahan dalam penanaman tiang-tiang pancang. (Subani dan barus, 1989).

6. Hasil Tangkapan
Alat tangkap togo concong luar ini menggantungkan hasil tangkapan kepada arus pasang surut, Sehingga hasilnya cukup banyak. Hasil tangkapan utama dari alat ini adalah ikan-ikan yang berada pada daerah sekitar pantai, seperti belanak (Mugil sp.), bulu ayam (Engraulis spp), udang kembung (Panaeus sp.). Dan juga ikan-ikan yang beruaya secara horizontal seperti ikan-ikan pelagis yaitu kembung (Rastraliger sp.), tongkol (Auxis sp.), dan lain-lain (Subani dan barus, 1989).

Daftar Pustaka
Ayodhyoa, AU. 1981. Methode penangkapan ikan. Yayasan Dewi Sri, CV Gaya Tehnik. Bogor.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Bubu Sungai

1.    Definisi dan Klasifikasi
Bubu adalah salah satu alat perangkap yang bersifat statis, umumnya berbentuk kurungan atau tabung, berupa jebakan dimana akan mudah masuk tanpa adanya paksaan dan sulit keluar karena dihalangi dengan berbagai cara. Menurut klasifikasi A. Von Brandt, bubu sungai termasuk dalam kelompok perangkap (Traps). (A. Von Brandt, 1989)

2.    Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Bubu sungai ini memiliki kostruksi sebagai berikut :
a.    Badan, seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbat adi anyaman bambu, berfungsi sebagai tempat sasaran terperangkap
b.    Mulut berbentuk linkarangan, merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam bubu sungai.
c.    Gigi penghalang, merupakan penghadang ikan untuk keluar dari bubu. (Subani dan Barus, 1989)

3.    Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1.     Kapal
Menurut kelompok kami, kapal yang digunakan untuk pengoperasian alat tangkap ini hanya membutuhkan perahu kecil saja. Karena pengoperasian alat tangkap ini tidak memerlukan orang yang banyak.
3.2.     Nelayan
Menurut kelompok kami, nelayan yang beroperasi ini mungkin hanya satu orang. Karena metodenya yang sederhana dan cukup mudah
3.3.     Umpan
Alat tangkap ini dapat dioperasikan menggunakan umpan atau tidak menggunakan umpan. Alat tangkap ini bisa dipasang umpan, untuk menarik perhatian agar ikan dapat masuk kedalam bubu. Sedangkan bubu yang tidak dipasang umpan hanya membutukan arus sungai dan tingkah laku ikan yang senang bersembunyi. (Subani dan Barus, 1989)
3.4.     Alat Bantu
Menurut kelompok kami, alat tangkap ini tidak memerlukan alat bantu lagi. Karena alat ini hanya membutuhkan arus sungai. Dan ketika ikan sudah terkumpul didalam bubu, maka alat tinggal dinaikkan ke perahu saja.

4.    Metode Pengoperasian
Bubu sungai diturunkan dan dioperasikan secara menetap disungai. Kemudian bubu dipasang selama 5-8 jam. Setelah itu, bubu sungai diangkat untuk diperiksa. Terlebih dahulu bubu ditutup pintunya agar ikan tidak terlepas. (Subani dan Barus, 1989)

5.    Daerah Pengoperasian
 Daerah pengoperasian bubu sungai ini biasanya pada daerah sungai berbatu dan mempunyai arus yang tidak begitu deras. (Subani dan Barus, 1989)

6.    Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan adalah ikan-ikan sungai yang senang bersembunyi pada apa saja yang berada disungai, serpeti sepat, betok, tawes, gabus, mujair, dan sidat. (Subani dan Barus, 1989)

Daftar Pustaka
Brandt, Andres Vont. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing new books Ltd.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Pesambet

1.    Definisi dan Klasifikasi
Pesambet merupakan alat tangkap yang terbuat dari anyaman bambu dengan kerangka yang berbentuk kecurut dengan gagang bambu sebagai pegangan dan dioperasikan pada perairan yang berlumpur atau ditumbuhi tanaman air. Alat tangkap ini termasuk dalam klasifikasi alat tangkap lain-lain (A Von Brant, 1984).

2.    Konstruksi Alat Penangkapan Ikan
Pesambet memiliki badan berbentuk kerucut yang terbuat dari bambu. Bagian atas terdiri dari semacam gagang dari batang bambu yang berfungsi untuk pegangan tangan untuk menancapkan ke target. (Subani dan Barus 1989)
Menurut kelompok kami, parameter utama dari alat tangkap ini adalah ukuran alat tangkap (proporsional alat tangkap) dan ketepatan penggunaan bahan. Semakin kuat ikatan pada simpul pada badan pesembet, maka kekuatan dari perangkai bambu sangat berpengaruh.

3.    Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1.     Kapal
Menurut kelompok kami, kapal yang digunakan untuk pengoperasian alat tangkap ini hanya membutuhkan perahu kecil saja. Karena selain bentuknya yang sederhana, cara pengoperasiannya pun sederhana.
3.2.     Nelayan
Menurut kelompok kami, nelayan yang bertugas untuk pengoperasian alat ini tidak diperlukan dalam jumlah banyak. Mungkin hanya satu atau dua orang saja. Orang pertama sebagai pengemudi perahu atau sampan, sedangkan orang kedua merupakan orang yang bertugas mengoperasikan alat tangkap tersebut.

3.3.     Umpan
Menurut kelompok kami, alat tangkap pesambet ini saat pengoperasiannya tidak memerlukan umpan. Karena pengoperasiannya sederhana, hanya ditancapkan pada sasaran saja.
3.4.     Alat Bantu
Menurut kelompok kami, alat tangkap ini tidak ada alat bantu yang digunakan lagi. Karena dari alat tangkap ini saja kita sudah bisa mengangkat ikan dari perairan.

4.    Metode Pengoperasian
Pengoperasian alat tangkap ini dilakukan dengan cara menjatuhkan kearah sasaran tangkapan. Tangkapan yang telah dijatuhi oleh alat tangkap ini maka akan terperangkap dan tidak dapat melarikan diri. Setelah sasaran terperangkap, maka dengan segera nelayan menaikkan ikan hasil tangkapan ke perahu atau sampan. (Subani dan Barus 1989)

5.    Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian pesambet ini umumnya di daerah sungai beraliran tenang atau deras. Namun, bisa juga diperasikan di bibir-bibir pantai yang tidak terlalu dalam. (Mulyono, 2002)

6.    Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan pun beragam seperti ikan tawes, udang galah, lele, sepat, mujair, bahkan sidat. Ketika dioperasikan di bibir pantai, hasil tangkpannya  seperti ikan kipper atau kepiting pantai. (Mulyono, 2002)

Daftar Pustaka
Baskoro, Mulyono S. 2002. Metode Penangkapan Ikan. Bogor. : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Brandt, Andres Vont. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing new books Ltd.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Tuna Longline

1. Definisi dan Klasifikasi
Rawai Tuna atau (Tuna Long-Line) merupakan rangkaian dari unit-unit pancing yang sangat panjang ( mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu meter). Terdiri dari tali utama (main line), tali  cabang (branch lines) yang diikatkan secara menggantung pada tali utama dengan jarak-jarak tertentu, dan maa-mata pancing (hooks) dengan ukuran (nomor) tertentu yang diikatkan pada setiap ujung bawah tali-tali cabang (setiap cabang terdiri dari satu mata pancing). Biasanya alat penangkap ikan ini kebanyakan digunakan untuk menangkap jenis ikan tuna. Menurut A. Von Brandt (1989), rawai tuna ini diklasifikasikan kedalam klasifikasi Hook and Line.

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Konstruksi dan ukuran bagian-bagian rawai tuna menurut Ayodhyoa (1981) yaitu sebagai berikut.
a.    Pelampung (Float), Pelampung yang digunakan pada long line terdiri dari beberapa jenis yaitu pelampung bola, pelampung bendera, pelampung radio, dan pelampung lampu. Warna pelampung harus berbeda atau kontras dengan warna air laut. Hal ini dimakasudkan untuk mempermudah mengenalnya dari jarak jauh setelah setting.
b.    Tali Pelampung, Tali pelampung berfungsi untuk mengatur kedalaman dari alat penangkap sesuai dengan yang dikehendaki. Tali pelampung ini biasanya terbuat dari bahan kuralon.
c.    Tali Utama (Main Line), Tali utama atau main line adalah bagian dari potongan-potongan tali yang dihubungkan antara satu dengan yang lain sehingga membentuk rangkaian tali yang sangat panjang. Tali utama harus cukup kuat karena menanggung beban dari tali cabang dan tarikan ikan yang terkait pada mata pancing. Pada kedua ujung pada main line dibuat simpul mata.
d.    Tali cabang (Branch Line),  Bahan dari tali cabang biasanya sama dengan tali utama, perbadaanya hanya pada ukuran saja, dimana ukuran tali cabang lebih kecil dari tali utama. Satu set tali cabang ini terdiri dari tali pangkal, tali cabang utama, wire leader yang berfungsi agar dapatmenahan gesekan pada saat ikan terkait pada pancing, dan pancing yang terbuat dari bahan baja, biasnaya menggunakan pancing
e.    Swivel atau kili-kili, untuk mengurangi kekusutan atau pelintiran tali senar, selain itu penggunaan swivel juga dapat mempermudah simpul.
f.    Barlen, sebagai sambungan pada tali agar tali tidak mudah putus saat ikan memberontak.
g.    Mata kail, sebagai alat pengkait atau penangkap ikan dengan adanya umpan yang terpasang.
Menurut kelompok kami parameter utama dari alat tangkap ini adalah ukuran mata kail dan ketepatan konstruksi alat. Karena kita juga harus menyesuaikan mata kail yang digunakan untuk menangkap sasaran utama.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Alat tangkap rawai tuna dioperasikan menggunakan kapal khusus rawai tuna yang memiliki buritan cukup luas untuk pengoperasian rawai menggunakan Line Hauler. Kapal yang digunakan berukuran yang bervariasi sekitar 30-600 GT. Ukuran kapal tersebut menentukan jumlah hari trip penangkapan yang dilakukan.
Bahan pembuatan kapal ada yang terbuat dari kayu, FRP dan baja. Bahan kapal juga tergantung kepada ukuran besar kapal. Ukuran kapal lebih dari 150GT umumnya terbuat dari baja. Selain sebagai alat transportasi, kapal ini juga digunakan  untuk komponen dalam penyettingan alat saat operasi. (Ayodhyoa, 1981)
3.2 Nelayan
Jumlah nelayan yaitu 2-3 orang nelayan, satu orang bertugas sebagai juru kemudi, satu orang bertugas untuk menurunkan garuk pada saat setting dan satu orang bertugas untuk menyortir kerang hasil tangkapan dan memasukkan kerang hasil tangkapan ke dalam keranjang (Subani dan Barus 1989).

3.3 Alat Bantu
Alat bantu pada pengoperasian rawai tuna adalah rumpon laut dalam, karena rawai tuna ini dioperasikan pada laut dalam.  Kemungkinan dengan adanya rumpon ini, ikan sasaran utama, terutama Tuna, akan merasa tertarik dengan aktifitas yang diberikan oleh rumpon laut dalam (Subani dan Barus 1989).

4. Metode Pengoperasian Alat
Setelah semua persiapan telah dilakukan dan telah tiba di fishing ground yang telah ditentukan . Setting diawali dengan penurunan pelampung bendera dan penebaran tali utama, selanjutnya dengan penebaran pancing yang telah dipasangi umpan. Rata-rata waktu yang dipergunakan untuk melepas pancing 0,6 menit/ pancing. Pelepasan pancing dilakukan menurut garis yang menyerong atau tegak lurus terhadap arus. Waktu melepas pancing biasanya waktu tengah malam, sehingga pancing telah terpasang waktu pagi saat ikan sedang giat mencari mangsa. Akan tetapi, pengoperasian pada siang hari dapat pula dilakukan.
Penarikan alat penangkap dilakukan setelah berada didalam air selama 3-6 jam. Penarikan dilakukan dengan menggunakan line hauler yang diatur kecepatannya. Masing-masing anak buah kapal telah mengetahui tugasnya sehingga alat penangkap dapat diatur dengan rapi. Lamanya penarikan alat penangkap sangat ditentukan oleh banyakny hasil tangkapan dan faktor cuaca. Penarikan biasanya memakan waktu 3 menit / pancing. Perusahaan perikanan samudra bedar di bali melakukan hauling sekitar 9-11 jam. Selanjutnya dilakukan penanganan hasil tangkapan dan persiapan operasi selanjutnya. (Ayodhyoa, 1981)

5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian alat pengumpul kerang adalah di dasar perairan. Distribusi alat pengumpul kerang yaitu di Jakarta (Kamal), Tanjung Balai Asahan dan beberapa tempat di pantai utara Jawa (Subani dan Barus 1989).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan rawai tuna di perairan Indonesia adalah Yellow Fin Tuna dan Big Eye Tuna. Namun di negara-negara dengan perikanan yang modern serta didukung juga dengan sumberdaya alam yang memumpuni seperti Jepang, hasil tangkapan utamanya adalan Blue Fin Tuna  (Subani dan Barus 1989).

Daftar Pustaka
Ayodhyoa, AU. 1981. Methode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri, CV Gaya Tehnik. Bogor.
Brandt, Andres Vont. 1984. Fish Catching Methods of The World. England : Fishing new books Ltd.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Alat Pengumpul Kerang

1. Definisi dan Klasifikasi
Alat pengumpul kerang adalah alat tangkap yang didesain khusus untuk mengumpulkan kerang, terdiri dari kantong yang di bagian mulutnya diberi bingkai besi berbentuk segitiga sama sisi. Alat pengumpul kerang diklasifikasikan ke dalam alat pengumpul (Subani dan Barus 1989).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Konstruksi dan ukuran bagian-bagian penggaruk kerang menurut Subani dan Barus (1989) yaitu sebagai berikut.
a.    Mulut raga, di bagian ini diberi bingkai dari besi berbentuk segitiga sama sisi dengan ukuran ketiga sisinya 80 cm x 80 cm x 80 cm;
b.    Kantong, dibentuk dari anyaman kawat, bagian ujungnya berbentuk agak membulat, berfungsi sebagai tempat kerang ditangkap;
c.    Gigi raga, terbuat dari bahan besi (gigi garuk) di bagian bawah bingkai;
d.    Lempengan besi yang mengelilingi mulut garuk, merupakan penghubung antara mulut bingkai dengan anyaman kawat dengan ukuran 2,5 cm;
e.    Tangkai yang terbuat dari bambu dengan panjang 4-5 m yang digunakan oleh nelayan saat mengangkat kerang yang tertangkap.
Menurut kelompok kami, prameter utama dari alat pengumpul kerang adalah konstruksi dan ukuran bingkai.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Menurut kelompok kami, perahu yang digunakan adalah perahu tanpa motor terbuat dari kayu digunakan sebagai alat transportasi nelayan dan sebagai penarik alat pengumpul kerang.
3.2 Nelayan
Menurut kelompok kami, jumlah nelayan yaitu 2-3 orang nelayan, satu orang bertugas sebagai juru kemudi, satu orang bertugas untuk menurunkan garuk pada saat setting dan satu orang bertugas untuk menyortir kerang hasil tangkapan dan memasukkan kerang hasil tangkapan ke dalam keranjang. Namun pengoperasian ini bisa dilakukan secara perseorangan. Karena alat ini bisa dioperasikan di pantai yang tidak terlalu dalam.
3.3 Alat Bantu
Alat bantu pada pengoperasian alat pengumpul kerang adalah gulungan (roller) untuk membantu penarikan alat pengumpul kerang (Subani dan Barus 1989)

4. Metode Pengoperasian Alat
Pengoperasian alat pengumpul kerang dilakukan dengan perahu sebagai alat penarik, umumnya dilakukan pada siang hari. Cara pengoperasiannya yaitu menurunkan 2-6 alat pengumpul kerang sekaligus dari sisi kiri/kanan perahu kemudian ditarik menelusuri dasar perairan menggunakan tali panjang (300-500 m) yang salah satu ujungnya diikat pada patok (tiang pancang atau jangkar). Untuk membantu penarikan, digunakan alat bantu berupa penggulung (roller). Setiap kali pada jarak tertentu, alat pengumpul kerang diangkat ke atas perahu untuk pengambilan hasil tangkapan. Hal ini terus dilakukan sampai tali habis tergulung, artinya telah dilakukan beberapa kali pengangkatan alat pengumpul kerang (Subani dan Barus 1989).

5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian alat pengumpul kerang adalah di dasar perairan, bisa di pantai berpasir atau berlumpur. Distribusi alat pengumpul kerang yaitu di Jakarta (Kamal), (Subani dan Barus 1989).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan alat pengumpul kerang adalah kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara inflata) (Subani dan Barus 1989).
Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Siagian SF. 2002. Analisis Hasil Tangkapan Kerang Menggunakan Penggaruk Kerang Dregde Gear dan Kemungkinan Bentuk Pengembangan Produksi Hasil Tangkapan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Skripsi [tidak dipublikasikan]. Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 104 hal.

Hasil Tangkapan Purse Seine

CAKALANG
Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang dari familia Scombridae (tuna). Satu-satunya spesies dari genus Katsuwonus. Ikan berukuran terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari 18 kg. Cakalang yang banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai skipjack tuna. Tubuh berbentuk memanjang dan agak bulat, dengan dua sirip punggung yang terpisah. Sirip punggung pertama terdiri dari 14-16 jari-jari tajam. Sirip punggung kedua yang terdiri dari 14-15 jari-jari lunak. Sirip dubur berjumlah 14-15 jari-jari. Bagian punggung berwarna biru keungu-unguan hingga gelap. Bagian perut dan bagian bawah berwarna keperakan, dengan 4 hingga 6 garis-garis berwarna hitam yang memanjang di samping badan. Badan tidak memiliki sisik kecuali pada bagian barut badan (corselet) dan garis lateral.
Cakalang dikenal sebagai perenang cepat di laut zona pelagik. Ikan ini umum dijumpai di laut tropis dan subtropis di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik. Cakalang tidak ditemukan di utara Laut Tengah. Hidup bergerombol dalam kawanan berjumlah besar (hingga 50 ribu ekor ikan). Makanan mereka berupa ikan, crustacea, cephalopoda, dan moluska. Cakalang merupakan mangsa penting bagi ikan-ikan besar di zona pelagik, termasuk hiu. Ikan cakalang adalah ikan bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam bentuk segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap. Dalam bahasa Jepang, cakalang disebut katsuo. Ikan cakalang diproses untuk membuat katsuobushi yang merupakan bahan utama dashi (kaldu ikan) untuk masakan Jepang. Dalam makanan Manado, cakalang diawetkan dalam bentuk cakalang fufu (cakalang asap).

KEMBUNG PEREMPUAN
Ikan ini memiliki bentuk tubuh seperti torpedo dengan panjang tubuh serta hidup di sekitar dasar perairan dan permukaan perairan laut, tergolong ikan pelagis yang mengkehendaki perairan bersalinitas tinggi, suka hidup secara bergerombol baik diperairan pantai maupun dilepas pantai. Kebiasaan makanannya adalah memakan plankton besar atau kasar, copepoda dan crustacean.
Ciri lain dari morfologi ikan kembung Perempuan ini adalah memiliki sirip ekor bercagak dua dan lekukkan dari cagak tersebut dimulai dekat pangkalnya. Pangkal sirip ekor bentuknya bulat kecil. Jari-jari lunak dari sirip ekor bercabang pada pangkalnya. Di belakang sirip punggung dan dubur, terdapat sirip-sirp tambahan yang kecil. Warna pada tubuh ikan mempunyai banyak fungsi, mengelompokkan fungsi-fungsi tersebut dalam tiga hal yaitu untuk persembunyian, penyamaran dan pemberitahuan. Jenis warna persembunyian meliputi pemiripan warna secara umum, pemiripan warna secara berubah, pemudaran warna, pewarnaan terpecah dan pewarnaan terpecah koinsiden.
ikan kembung  yaitu identifikasi stok populasi ikan kembung dengan menggunakan karakter morfometrik dan menelaah sebaran panjang untuk melihat distribusi panjang ikan kembung yang tertangkap dalam hubuungannya dengan pelestarian sumberdaya perikanannya. Contoh ikan dikoleksi dari Pulau Dobo (n=52), Teluk Ambo (n=15), Pulau Rori (n=9) dan Pulau Semau (n=37). Selanjutnya, dari hasil pengukuran panjang total ikan kembung yang didaratkan di Dobo diperoleh variasi panjang ikan anatara 14,80-18,40 cm. Prosentasi ikan yang berukuran panjang < 20 cm adalah sebesar 50,80 persen dari seluruh hasil pengukuran. Informasi tentang ukuran panjang ikan kembung yang tertangkap di perairan Dobo.

IKAN LAYANG
kan layang (Decapterus spp) merupakan salah satu komunitas perikanan pelagis kecil yang penting di Indonesia. Ikan yang tergolong suku Carangidae ini bisa hidup bergerombol . Ukurannya sekitar 15 centimeter meskipun ada pula yang bisa mencapai 25 centimeter . Ciri khas yang sering dijumpai pada ikan layang ialah terdapatnya sirip kecil ( finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur dan terdapat sisik berlinginyang tebal (lateral scute) pada bagian garis sisi (lateral line) (Nontji,2002)
 
Diskripsi ikan layang biasa (Decapterus russelli), badan memanjang, agak gepeng. Dua sirip punggung.Sirip punggung pertama berjari-jari keras 9 (1 meniarap + 8 biasa), sirip punggung kedua berjari – jari keras 1 dan 30 – 32 lemah. Sirip dubur berjari-jari keras 2 (lepas) dan 1 bergabung dengan 22 – 27 jari sirip lemah. Baik di belakang sirip punggung kedua dan dubur terdapat 1 jari-jari sirip tambahan ( finlet ) termasuk pemakan plankton, diatomae, chaetognatha, copepoda, udangudangan larva-larva ikan,juga telur-telur ikan teri (Stolephorus sp,). Hidup di perairan lepas pantai, kadar garam tinggi membentuk gerombolan besar. Dapat mencapai panjang 30 Cm, umumnya 20 – 25 cm. Warna: biru kehijauan, hijau pupus bagian atas, putih perak bagian bawah. Sirip siripnya abu-abu kekuningan atau kuning pucat.Satu totol hitam terdapat pada tepian atas penutup insang
Di perairan Indonesia terdapat lima jenis layang yang umum yakni Decapterus kurroides, Decapterus russelli, Decapterus macrosoma Decapterus layang, dan Decapterus maruadsi (FAO,1974). Dari kelima jenis ini hanya Decapterus russelli yang mempunyai daerah sebaran yang luas di Indonesia , sedangkan di Perairan Laut Jawa terdapat dua spesies yaitu Decapterus macrosoma dan Decapterus ruselli (Widodo ,1988). Di Laut Jawa sangat dominan dalam hasil tangkapan nelayan mulai dari Pulau Seribu, hingga P.Bawean dan P. Masalembo,Selat Makassar Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru, Selat Bali. Decapterus ruselli dan Decapterus macrosoma tersebar di perairan tertentu.
Tampaknya Decapterus ruselli senang hidup di perairan dangkal seperti Laut Jawa, sedangkan Decapterus macrosoma tersebar di perairan laut seperti di Selat Bali, Perairan Indonesia Timur Laut Banda, Selat Makassar dan Sangihe, Laut Cina Selatan. Decapterus kurroides tergolong ikan yang agak langka antara lain terdapat di Selat Bali, Labuhan dan Pelabuhan Ratu (Jawa Barat). Decapterus maruadsi termasuk ikan layang yang berukuran besar, hidup di laut dalam seperti di Laut Banda tertangkap pada kedalaman 100 meter lebih (Nontji, 2002) . Ikan layang termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak menetap dan suka bergerombol. Jenis ikan ini tergolong “stenohaline”, hidup di perairan yang berkadar garam tinggi (32 – 34 promil) dan menyenangi perairan jernih. Ikan layang banyak tertangkap di perairan yang berjarak 20 – 30 mil dari pantai. Sedikit informasi yang diketahui tentang migrasi ikan , tetapi ada kecenderungan bahwa pada siang hari gerombolan ikan bergerak ke lapisan air yang lebih dalam dan malam hari kelapisan atas perairan yang lebih.
Anomim. 2007. Biologi Ikan Layang. [terhubung berlaka] http://perikanan-hangtuah.blogspot.com/2011/04/biologi-ikan-layang.html. (21 Desember 2011)

CUMI-CUMI
Cumi-cumi termaksud pelagik, tetapi terkadang di golongkan sebagai organismeh demersal, karena sering berada di dasar (Barnes, 1974). Cumi-cumi melakukan distribusi vertical pada malam hari, dimana cumi-cumi bergerak kearah permukaan untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari berada didasar perairan. Adapun ukuran ekonomis yang sesuai dengan kriteria ramah lingkungan di seuaikan dengan berat bobot dan panjang tubuh. Bentuk umum dari cumi-cumi adalah tubuhnya berbentuk skoci bila berenang dalam air, dimna bagian ventral terletak di bagian enterior (Roper dkk 1984). Kaki cumi-cumi (loligo sp) ada 10 jerat, dimana 8 jerat berfungsi sebagai tangan dan 2 jerat berfungsi sebagai tentakel. Cumi-cumi dalam melindungi tubuhnya dari serangan musuh atau predator dilakukan dengan merubah warnah tubuhnya,dimana kadang-kadang berwarnah putih kebiruan, bintik-bintik merah dan coklat, serta bila diserang akan mengeluarkan cairan atau tinta berwarnah hitam, untuk mengaburkan serangan musuhnya (Barnes, 1874, Rahardjo dan Bangen, 1984).
Siklus cumi-cumi sering juga ditemukan mulai dari perairan pantai yang dangkal sampai perairan yang agak dalam yaitu perairan Atlantik, sepanjang pantai Eropa, pantai Barat lautan Pasifik dan lautan Indonesia (Bakrie 1985). Penyebaran cumi-cumi di Indonesia ditemukan pada semua perairan, seperti laut Jawa, selat Makassar,laut Maluku, laut Seram, laut Flores, perairan Morowali Sulawesi Tengah dan laut Arafuru.
Perbedaan warna mata pancing mampu memberikan pengaruh yang berbeda pula pada hasil tangkapan, karena semakin besar panjang gelombang dari suatu warna maka akan semakin besar cahaya yang dipantulkannya. Dari proses timbulnya persepsi terhadap suatu warna tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa factor yang terpenting adalah kemampuan memantulkan sinar dari warna benda yang disinari tersebut, disamping besarnya radian energi yang dihasilkan oleh sumber cahaya. Maka dari penelitian ini akan di cari salah satu warna yang terbaik, dari ketiga warna yang terpilih merah,hijau dan biru.